Namun panasnya sudah terasa membakar kulit.
Seorang pengelana berjalan sendirian di tengah gurun.
Langkahnya pelan.
Air yang dibawanya tidak banyak.
Ia tidak tahu berapa lama lagi perjalanan ini akan berlangsung.
Yang ia tahu hanya satu.
Ia harus terus berjalan.
Di hadapannya terbentang hamparan pasir yang seolah tidak memiliki ujung.
Tidak ada pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Tidak ada sungai yang bisa menghilangkan dahaga.
Tidak ada rumah yang dapat diketuk ketika malam tiba.
Hanya gurun.
Dan gurun tidak pernah peduli siapa yang melintasinya.
Angin berembus membawa pasir.
Matahari terus naik.
Sementara kantung airnya semakin ringan.
Di tanah seperti ini, satu kesalahan kecil dapat mengakhiri sebuah perjalanan.
Karena itulah orang-orang Arab belajar memahami gurun sejak kecil.
Mereka mengenal arah angin.
Mereka membaca bintang-bintang.
Mereka menghafal letak sumur dan oase.
Mereka tahu kapan harus berjalan.
Dan kapan harus berhenti.
Hidup di Jazirah Arab bukan sekadar bertahan hidup.
Hidup di Jazirah Arab adalah ujian yang harus dihadapi setiap hari.
Namun tanah yang keras tidak selalu menjadi tanah yang mati.
Dari kejauhan tampak titik-titik kecil bergerak di atas gurun.
Sedikit demi sedikit bentuknya menjadi jelas.
Ya, itu unta.
Puluhan ekor.
Berjalan dalam satu barisan panjang.
Di punggung mereka tergantung berbagai barang dagangan.
Kemenyan.
Rempah-rempah.
Kulit.
Kain.
Dan berbagai barang berharga lainnya.
Mereka adalah kafilah dagang.1,2
Urat nadi yang menghidupkan Jazirah Arab.
Setiap tahun, jalur-jalur gurun dilalui oleh para pedagang yang datang dari berbagai arah.
Dari Yaman di selatan.3
Menuju Syam di utara.
Perjalanan itu tidak mudah.
Panas membakar di siang hari.
Dingin menusuk di malam hari.
Badai pasir dapat datang tanpa peringatan.
Dan perampok selalu mengintai kesempatan.
Tetapi mereka tetap berjalan.
Karena jalur perdagangan inilah yang menghubungkan berbagai negeri.
Dan Jazirah Arab berada tepat di tengah jalur itu.3
Meski menjadi persimpangan perdagangan yang penting, Jazirah Arab tidak dipimpin oleh satu raja yang menguasai seluruh wilayahnya.
Yang ada adalah suku-suku.
Dan bagi orang Arab saat itu, suku adalah segalanya.1,2
Suku adalah keluarga.
Suku adalah perlindungan.
Suku adalah kehormatan.
Jika seseorang kehilangan sukunya, ia kehilangan hampir seluruh tempat berpijaknya di dunia.
Karena itu kesetiaan kepada suku dijaga dengan sangat kuat.
Terkadang lebih kuat daripada rasa keadilan itu sendiri.
Seorang Arab tidak berdiri sendirian.
Ia berdiri bersama kaumnya.
Dan kaumnya berdiri bersamanya.
Begitulah dunia mereka berjalan.
Sebagian orang Arab hidup berpindah-pindah mengikuti air dan padang rumput.
Mereka dikenal sebagai kaum Badui.
Hari ini mereka mendirikan kemah.
Beberapa waktu kemudian mereka membongkarnya kembali.
Lalu berjalan ke tempat lain.
Mencari kehidupan.
Mencari air.
Mencari tempat bagi ternak mereka untuk bertahan hidup.
Gurun mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Kesabaran.
Keberanian.
Ketangguhan.
Tetapi gurun juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu berpihak kepada yang lemah.
Di banyak tempat di Jazirah Arab, tidak ada hukum yang berlaku untuk semua orang.
Tidak ada pengadilan yang melindungi setiap manusia.
Kekuatan sering kali menjadi penentu.
Siapa yang kuat akan dihormati.
Siapa yang lemah sering kali harus menerima nasibnya.
Tawanan perang dapat dijadikan budak.
Orang miskin tidak selalu memiliki seseorang yang membela mereka.
Dan pertikaian antarsuku dapat berlangsung sangat lama.
Kadang karena persoalan besar.
Kadang karena sesuatu yang tampak kecil.
Perang Al-Basus adalah salah satunya.1,4
Konflik itu bermula dari sebuah perselisihan yang melibatkan seekor unta.
Namun yang terjadi setelahnya jauh lebih besar.
Balas dendam dibalas balas dendam.
Generasi berganti.
Tetapi permusuhan tetap hidup.
Perang itu berlangsung selama puluhan tahun.
Hampir empat puluh tahun.
Namun dunia ini tidak hanya berisi kegelapan.
Orang-orang Arab dikenal karena keberanian mereka menjaga kehormatan.
Mereka menghormati tamu.
Menepati janji.
Menghafal silsilah keluarga mereka hingga beberapa generasi ke atas.
Mereka juga mencintai syair.1,4
Di pasar-pasar besar, para penyair berdiri membacakan bait-bait terbaik mereka.
Orang-orang berkumpul.
Mendengarkan.
Menghafal.
Lalu menceritakannya kembali kepada yang lain.
Bagi mereka, kata-kata memiliki nilai yang sangat tinggi.
Kadang lebih berharga daripada pedang.
Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Generasi demi generasi.
Warisan para nabi mulai dilupakan.
Sebagian besar manusia tidak lagi menyembah Allahﷻ semata.
Berhala-berhala mulai memenuhi kehidupan mereka.1,2
Patung-patung diagungkan.
Doa dipanjatkan kepada selain Allah.
Dan kebiasaan yang dahulu dianggap asing mulai menjadi sesuatu yang biasa.
Dunia terus berjalan.
Namun arah yang dahulu dikenal perlahan menghilang.
Di antara kota-kota yang tersebar di Jazirah Arab, ada satu kota yang berbeda.
Kota itu tidak memiliki sungai besar.
Tidak memiliki tanah yang subur.
Tidak pula memiliki kerajaan yang menguasai wilayah-wilayah di sekitarnya.
Namun manusia terus berdatangan ke sana.
Dari utara.
Dari selatan.
Dari timur.
Dari barat.
Tahun demi tahun.
Generasi demi generasi.
Mereka datang membawa barang dagangan.
Mereka datang untuk bertemu kabilah-kabilah lain.
Dan mereka datang untuk mengunjungi sebuah bangunan yang telah dikenal jauh sebelum mereka dilahirkan.
Bangunan itu tidak menjulang tinggi.
Tidak dibangun dari emas.
Tidak pula dikelilingi istana-istana megah.
Namun kedudukannya begitu istimewa di hati masyarakat Arab.
Bangunan itu adalah Ka'bah.
Menurut riwayat yang diwariskan turun-temurun, Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام dan putranya, Nabi Ismail عليه السلام.4,5
Bukan untuk berhala.
Bukan untuk patung.
Tetapi sebagai tempat beribadah kepada Allahﷻ.
Waktu berlalu.
Generasi berganti.
Berabad-abad pun terlewati.
Namun manusia tidak selalu menjaga apa yang diwariskan kepada mereka.
Dan sedikit demi sedikit, berhala mulai mengambil tempat yang seharusnya tidak mereka miliki.
Orang-orang datang membawa harapan.
Membawa doa.
Membawa persembahan.
Sebagian memang datang untuk mengagungkan Allah.
Tetapi sebagian yang lain datang untuk sesuatu yang berbeda.
Mereka meletakkan doa mereka di hadapan patung-patung batu.
Mereka meminta kepada sesuatu yang tidak bisa mendengar.
Mereka berharap kepada sesuatu yang tidak bisa menjawab.
Ka'bah masih berdiri di tengah semua itu.
Seperti aslinya.
Seperti tujuan awalnya.
Tapi yang mengelilinginya sudah bukan lagi yang seharusnya ada di sana.
Meski demikian, tidak semua orang melupakan kebenaran.
Di tengah masyarakat yang dipenuhi berhala, masih ada segelintir orang yang menolak menyembah selain Allahﷻ.
Mereka dikenal sebagai kaum Hanif.1,2
Jumlah mereka tidak banyak.
Mereka tidak memiliki kekuasaan.
Mereka juga tidak memiliki pengaruh yang besar.
Tetapi mereka tetap mencari agama Nabi Ibrahim عليه السلام.1
Mereka percaya bahwa kebenaran masih ada.
Meski saat itu terasa begitu jauh.
Seperti cahaya kecil yang hampir tidak terlihat di tengah malam yang gelap.
Begitulah Jazirah Arab sebelum Islam.
Tanah yang keras.
Manusia-manusia yang tangguh.
Jalur perdagangan yang ramai.
Suku-suku yang menjaga kehormatan mereka dengan sepenuh hati.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang hilang.
Manusia masih mencari arah.
Mereka mengenal keberanian.
Tetapi belum mengenal belas kasih sebagaimana mestinya.
Mereka mengenal kesetiaan.
Tetapi sering kali melupakan keadilan.
Mereka mengenal kemuliaan.
Tetapi juga membiarkan berbagai bentuk kezaliman tumbuh di tengah kehidupan mereka.
Dunia terus berjalan.
Hari berganti hari.
Tahun berganti tahun.
Tidak ada yang tampak berbeda.
Tidak ada yang tampak luar biasa.
Namun sering kali, perubahan terbesar datang ketika tidak ada seorang pun yang menduganya.
