Zaman Dahulu·Ka'bah·4 menit baca
Ilustrasi Bab 3: Ka'bah: Bangunan Tua yang Dimuliakan

Ilustrasi gambar: Ka'bah bangunan kubus sederhana di tengah lembah Makkah, batu-batu yang disusun Ibrahim dan Ismail, usianya lebih tua dari ingatan manusia.

Ka'bah: Bangunan Tua yang Dimuliakan

Dari tangan Nabi Ibrahim عليه السلام ke tangan Quraisy

Di tengah lembah itu, pandangan manusia selalu kembali ke tempat yang sama.

Tidak peduli dari arah mana mereka datang.

Tidak peduli seberapa jauh mereka berjalan.

Mata mereka selalu mencari bangunan itu.

Bangunan yang tidak tinggi.

Tidak megah.

Tidak dihiasi emas atau perak.

Hanya batu-batu yang disusun membentuk kubus.

Tidak ada atap yang menutupinya.

Tidak ada pintu yang menjaganya.

Tapi bangunan ini lebih tua dari siapa pun yang hidup saat itu.

Lebih tua dari suku Quraisy.

Lebih tua dari tradisi-tradisi yang mereka pegang.

Lebih tua dari ingatan manusia.

Bangunan itu bernama Ka'bah.5,6

Dari mana bangunan ini berasal?

Riwayat yang diwariskan turun-temurun menyebutkan bahwa bangunan ini pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام.4,5,6

Ibrahim.

Lelaki yang meninggalkan kaumnya karena mereka menyembah berhala.

Lelaki yang dilempar ke dalam api tapi tidak terbakar.

Lelaki yang berjalan meninggalkan segalanya karena Allah memintanya pergi.

Ibrahim tidak membangun Ka'bah untuk dirinya sendiri.2

Ia membangunnya karena diperintahkan.

Allah berfirman agar ia mendirikan rumah peribadatan di lembah itu.

Rumah untuk manusia datang menghadap Tuhan mereka.

Bukan rumah untuk patung.

Bukan rumah untuk berhala.

Tapi rumah untuk mengesakan Allah.

Ibrahim tidak sendirian.

Putranya menemani pembangunan itu.4,5

Ismail.

Anak yang ia tinggalkan bersama ibunya, Hajar رضي الله عنها, di lembah yang gersang bertahun-tahun yang lalu.

Anak yang tumbuh di tanah kering.

Yang matanya melihat gurun lebih sering daripada pepohonan.

Yang hidupnya dimulai dari doa ibunya dan air dari bumi.

Sekarang Ismail sudah dewasa.

Dan ayahnya kembali.

Bukan untuk membawanya pergi.

Tapi untuk membangun sesuatu bersamanya.

Ayah dan putra.

Menyusun batu demi batu.

Di lembah yang sama tempat Ismail dulu menangis kehausan.

Di tempat yang sama di mana air Zamzam memancar.

Di tanah yang sama di mana Hajar رضي الله عنها berlari mencari harapan.

Mereka membangun rumah Allah di atas tanah yang sudah disaksikan oleh doa.2,3

Ketika bangunan itu selesai, Ibrahim عليه السلام berdoa.

Bukan doa kecil.

Bukan ucapan syukur biasa.

Ini doa seorang ayah yang telah melewati banyak ujian.

Yang meninggalkan keluarganya di tanah kosong karena diperintahkan.

Yang diperintahkan menyembelih putranya karena diperintahkan.

Yang sekarang berdiri di samping putra itu, di depan bangunan yang mereka bangun bersama.

Ibrahim mengangkat tangannya.

Dan memohon.

Allah mengabadikan sebagian doanya dalam Al-Qur'an:1

Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala.
QS Ibrahim: 35

Doa itu terdengar.

Dan Allah mengabulkannya.1

Berabad-abad kemudian.

Namun waktu tidak berhenti.

Ibrahim wafat.

Ismail wafat.

Generasi berganti generasi.

Dan di setiap pergantian itu, Ka'bah tetap berdiri.

Tapi manusia berubah.

Awalnya, Ka'bah dikunjungi oleh orang-orang yang mengesakan Allah.

Mereka datang untuk beribadah.

Mereka datang karena doa Ibrahim masih hidup di ingatan mereka.

Namun pelan-pelan, sesuatu masuk ke dalam rumah yang seharusnya hanya untuk Allah.

Berhala.

Patung-patung kecil yang disembah.

Satu.

Dua.

Puluhan.

Hingga ratusan.4,5,6

Ka'bah yang dibangun untuk mengesakan Allah, kini dipenuhi oleh benda-benda yang manusia buat sendiri.

Rumah Allah dijadikan gudang berhala.

Mereka tidak pernah sengaja meninggalkan kebenaran.

Mereka hanya menambahkan sesuatu.

Satu tradisi tambahan.

Satu patung tambahan.

Satu kebiasaan tambahan.

Hingga yang asli tidak lagi terlihat.

Bangunan fisiknya tetap utuh.

Tapi maknanya sudah berubah.

Ka'bah tetap menjadi alasan orang datang ke Makkah.

Tapi mereka datang bukan lagi untuk mengesakan Allah.

Mereka datang untuk menyentuh patung-patung di dalamnya.

Mereka datang untuk menjalankan ritual yang sudah tidak ada lagi yang tahu dari mana asalnya.

Mereka datang untuk berdagang.

Dan di antara semua itu, ada yang masih ingat.

Masih ada yang menceritakan kisah Ibrahim.4,6

Masih ada yang tahu bahwa Ka'bah dibangun bukan untuk berhala.

Tapi suara mereka semakin kecil.

Semakin tenggelam di antara kebisingan pasar dan nyanyian ritual.

Bangunan itu tetap berdiri.

Batu-batu yang disusun Ibrahim dan Ismail masih ada.

Doa yang dipanjatkan Ibrahim masih tercatat.

Hanya manusia yang lupa.

Lupa bahwa rumah ini dibangun untuk Allah.

Lupa bahwa leluhur mereka berdoa bukan kepada patung.

Lupa bahwa di balik setiap batu Ka'bah, ada sejarah yang lebih tua daripada semua berhala yang mereka letakkan di dalamnya.

Ka'bah menunggu.

Tidak dengan suara.

Tidak dengan gerakan.

Tapi dengan kehadirannya yang tidak pernah hilang.

Bangunan tua itu terus berdiri di tengah lembah.

Seperti kata-kata yang belum diucapkan.

Seperti janji yang belum ditepati.

Menunggu seseorang yang akan mengembalikan rumah ini kepada Allah yang memintanya dibangun.1,2,3

Lokasi
Referensi
  1. 1.QS Ibrahim: 35-41
  2. 2.QS Al-Baqarah: 125-127
  3. 3.QS Al-Hajj: 26-30
  4. 4.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Dhikr Bina' Ibrahim al-Bayt, Hal. 42-55, Dar al-Ma'rifah, Beirut
  5. 5.Al-Azraqi, Akhbar Makkah, Juz' 1, Bab: Dhikr Bina' Ibrahim al-Ka'bah, Hal. 30-45, Dar al-Andalus, Beirut
  6. 6.Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, Jilid 1, Hal. 267-276, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut

Jejak Perjalanan

Setiap fase — setiap langkah — dalam satu peta.

Fase 3

Mencari Kebenaran

Kesunyian Gua Hira dan malam yang mengubah segalanya
  1. 610 M

    Menyepi di Gua Hira

  2. 610 M

    Malam yang Mengubah Dunia

  3. 610 M

    Iqra'

  4. 610 M

    Kembali kepada Khadijah

Fase 6

Membangun Peradaban

Masjid, persaudaraan, dan piagam
  1. 622 M

    Masjid Nabawi

  2. 622 M

    Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  3. 622–624 M

    Piagam Madinah

Fase 8

Perpisahan

Haji terakhir dan hari yang membuat Madinah menangis
  1. 632 M

    Haji Wada'

  2. 632 M

    Wasiat Terakhir

  3. 632 M

    Hari yang Membuat Madinah Menangis

Fase 9

Jejak yang Tidak Pernah Padam

Warisan Islam dan sahabat yang melanjutkan perjuangan
  1. 632 M+

    Jejak yang Tidak Pernah Padam