Tidak peduli dari arah mana mereka datang.
Tidak peduli seberapa jauh mereka berjalan.
Mata mereka selalu mencari bangunan itu.
Bangunan yang tidak tinggi.
Tidak megah.
Tidak dihiasi emas atau perak.
Hanya batu-batu yang disusun membentuk kubus.
Tidak ada atap yang menutupinya.
Tidak ada pintu yang menjaganya.
Tapi bangunan ini lebih tua dari siapa pun yang hidup saat itu.
Lebih tua dari suku Quraisy.
Lebih tua dari tradisi-tradisi yang mereka pegang.
Lebih tua dari ingatan manusia.
Bangunan itu bernama Ka'bah.5,6
Dari mana bangunan ini berasal?
Riwayat yang diwariskan turun-temurun menyebutkan bahwa bangunan ini pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام.4,5,6
Ibrahim.
Lelaki yang meninggalkan kaumnya karena mereka menyembah berhala.
Lelaki yang dilempar ke dalam api tapi tidak terbakar.
Lelaki yang berjalan meninggalkan segalanya karena Allahﷻ memintanya pergi.
Ibrahim tidak membangun Ka'bah untuk dirinya sendiri.2
Ia membangunnya karena diperintahkan.
Allahﷻ berfirman agar ia mendirikan rumah peribadatan di lembah itu.
Rumah untuk manusia datang menghadap Tuhan mereka.
Bukan rumah untuk patung.
Bukan rumah untuk berhala.
Tapi rumah untuk mengesakan Allahﷻ.
Ibrahim tidak sendirian.
Putranya menemani pembangunan itu.4,5
Ismail.
Anak yang ia tinggalkan bersama ibunya, Hajar رضي الله عنها, di lembah yang gersang bertahun-tahun yang lalu.
Anak yang tumbuh di tanah kering.
Yang matanya melihat gurun lebih sering daripada pepohonan.
Yang hidupnya dimulai dari doa ibunya dan air dari bumi.
Sekarang Ismail sudah dewasa.
Dan ayahnya kembali.
Bukan untuk membawanya pergi.
Tapi untuk membangun sesuatu bersamanya.
Ayah dan putra.
Menyusun batu demi batu.
Di lembah yang sama tempat Ismail dulu menangis kehausan.
Di tempat yang sama di mana air Zamzam memancar.
Di tanah yang sama di mana Hajar رضي الله عنها berlari mencari harapan.
Mereka membangun rumah Allahﷻ di atas tanah yang sudah disaksikan oleh doa.2,3
Ketika bangunan itu selesai, Ibrahim عليه السلام berdoa.
Bukan doa kecil.
Bukan ucapan syukur biasa.
Ini doa seorang ayah yang telah melewati banyak ujian.
Yang meninggalkan keluarganya di tanah kosong karena diperintahkan.
Yang diperintahkan menyembelih putranya karena diperintahkan.
Yang sekarang berdiri di samping putra itu, di depan bangunan yang mereka bangun bersama.
Ibrahim mengangkat tangannya.
Dan memohon.
Allahﷻ mengabadikan sebagian doanya dalam Al-Qur'an:1
Doa itu terdengar.
Dan Allahﷻ mengabulkannya.1
Berabad-abad kemudian.
Namun waktu tidak berhenti.
Ibrahim wafat.
Ismail wafat.
Generasi berganti generasi.
Dan di setiap pergantian itu, Ka'bah tetap berdiri.
Tapi manusia berubah.
Awalnya, Ka'bah dikunjungi oleh orang-orang yang mengesakan Allahﷻ.
Mereka datang untuk beribadah.
Mereka datang karena doa Ibrahim masih hidup di ingatan mereka.
Namun pelan-pelan, sesuatu masuk ke dalam rumah yang seharusnya hanya untuk Allahﷻ.
Berhala.
Patung-patung kecil yang disembah.
Satu.
Dua.
Puluhan.
Hingga ratusan.4,5,6
Ka'bah yang dibangun untuk mengesakan Allahﷻ, kini dipenuhi oleh benda-benda yang manusia buat sendiri.
Rumah Allahﷻ dijadikan gudang berhala.
Mereka tidak pernah sengaja meninggalkan kebenaran.
Mereka hanya menambahkan sesuatu.
Satu tradisi tambahan.
Satu patung tambahan.
Satu kebiasaan tambahan.
Hingga yang asli tidak lagi terlihat.
Bangunan fisiknya tetap utuh.
Tapi maknanya sudah berubah.
Ka'bah tetap menjadi alasan orang datang ke Makkah.
Tapi mereka datang bukan lagi untuk mengesakan Allahﷻ.
Mereka datang untuk menyentuh patung-patung di dalamnya.
Mereka datang untuk menjalankan ritual yang sudah tidak ada lagi yang tahu dari mana asalnya.
Mereka datang untuk berdagang.
Dan di antara semua itu, ada yang masih ingat.
Masih ada yang menceritakan kisah Ibrahim.4,6
Masih ada yang tahu bahwa Ka'bah dibangun bukan untuk berhala.
Tapi suara mereka semakin kecil.
Semakin tenggelam di antara kebisingan pasar dan nyanyian ritual.
Bangunan itu tetap berdiri.
Batu-batu yang disusun Ibrahim dan Ismail masih ada.
Doa yang dipanjatkan Ibrahim masih tercatat.
Hanya manusia yang lupa.
Lupa bahwa rumah ini dibangun untuk Allahﷻ.
Lupa bahwa leluhur mereka berdoa bukan kepada patung.
Lupa bahwa di balik setiap batu Ka'bah, ada sejarah yang lebih tua daripada semua berhala yang mereka letakkan di dalamnya.
