Anak-anak Bani Sa'd bermain di sekitar perkampungan.
Muhammadﷺ bermain bersama saudara-saudara susuannya.
Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Hari itu, anak-anak sedang berada agak jauh dari rumah, menggembalakan kambing.1
Muhammadﷺ tengah bermain di antara mereka, seperti anak-anak lainnya.
Tiba-tiba, sesosok datang kepadanya — Jibril ﷺ.2
Jibril menangkapnya, membaringkannya di atas tanah.
Lalu, dibelahnya dada itu.1
Hati Muhammadﷺ dikeluarkan dari dalam dadanya.
Tidak ada jerit. Tidak ada perlawanan.
Hanya keheningan yang sama seperti sebelumnya — seolah tubuh kecil itu tahu, ini bukan ancaman.
Dari hati itu, Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam.
"Ini adalah bagian setan darimu," ucap Jibril.1
Gumpalan itu dibasuh di sebuah baskom emas, dengan air zam-zam.
Kemudian, hati itu dikembalikan ke tempatnya — dijahit, disatukan kembali seperti semula.1
Teman-teman sepermainannya berdiri terpaku.
Tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja mereka lihat.
Lalu, seseorang berteriak.
Dan semuanya berlari.
Mereka berlari menuju ibu susuannya, Halimah, sambil berseru:
"Muhammad telah dibunuh! Muhammad telah dibunuh!"1
Halimah dan Harits berlari ke tempat itu.3
Sepanjang jalan, kata-kata itu masih bergaung di kepala Halimah.
Dibunuh.
Bukan jatuh. Bukan terluka. Dibunuh.
Ia berlari lebih cepat dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Anak yang sama yang membawa keberkahan ke rumahnya.
Anak yang ia susui dengan air susu yang tiba-tiba berlimpah, setelah bertahun-tahun kering.
Sampai akhirnya, ia tiba.
Mereka menemukan Muhammadﷺ berdiri, wajahnya pucat — berubah warna kulitnya.1
Bukan tergeletak. Bukan terluka. Berdiri.
Halimah berhenti sejenak, menahan napas.
Lalu ia berlari menghampirinya, memeluknya erat-erat, menanyakan apa yang terjadi.
Muhammadﷺ menceritakan: seseorang datang, membaringkannya, membuka dadanya, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, lalu mengembalikannya.3
Tidak ada darah yang mengalir keluar.
Tapi ada bekas yang tertinggal — sebuah jahitan tipis melintang di dadanya, yang akan tetap ada di sana hingga ia dewasa.1
Anas bin Malik, puluhan tahun kemudian, masih menyaksikannya sendiri:
"Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan itu di dadanya."1
Tidak lama setelah peristiwa itu, Halimah membawa Muhammadﷺ kembali ke Makkah, lebih cepat dari rencana semula.3
Ia menemui Aminah.
Ia menceritakan apa yang terjadi pada anaknya.
Ia menyerahkan kembali Muhammadﷺ kepada ibunya, meski masa asuhannya belum genap seperti yang biasa dijalani anak-anak lain.3
