~572 M·Padang Bani Sa'ad·3 menit baca
Ilustrasi Bab 8: Pembelahan Dada

Ilustrasi gambar: Anak-anak Bani Sa'd berlari panik menuju perkampungan setelah menyaksikan peristiwa pembelahan dada Muhammad ﷺ.

Pembelahan Dada

Sesuatu yang Tidak Biasa di Padang Bani Sa'd

Padang itu sunyi seperti biasa.

Anak-anak Bani Sa'd bermain di sekitar perkampungan.

Muhammad bermain bersama saudara-saudara susuannya.

Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Hari itu, anak-anak sedang berada agak jauh dari rumah, menggembalakan kambing.1

Muhammad tengah bermain di antara mereka, seperti anak-anak lainnya.

Tiba-tiba, sesosok datang kepadanya — Jibril ﷺ.2

Jibril menangkapnya, membaringkannya di atas tanah.

Lalu, dibelahnya dada itu.1

Hati Muhammad dikeluarkan dari dalam dadanya.

Tidak ada jerit. Tidak ada perlawanan.

Hanya keheningan yang sama seperti sebelumnya — seolah tubuh kecil itu tahu, ini bukan ancaman.

Dari hati itu, Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam.

"Ini adalah bagian setan darimu," ucap Jibril.1

Gumpalan itu dibasuh di sebuah baskom emas, dengan air zam-zam.

Kemudian, hati itu dikembalikan ke tempatnya — dijahit, disatukan kembali seperti semula.1

Teman-teman sepermainannya berdiri terpaku.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja mereka lihat.

Lalu, seseorang berteriak.

Dan semuanya berlari.

Mereka berlari menuju ibu susuannya, Halimah, sambil berseru:

"Muhammad telah dibunuh! Muhammad telah dibunuh!"1

Halimah dan Harits berlari ke tempat itu.3

Sepanjang jalan, kata-kata itu masih bergaung di kepala Halimah.

Dibunuh.

Bukan jatuh. Bukan terluka. Dibunuh.

Ia berlari lebih cepat dari yang pernah ia lakukan sebelumnya.

Anak yang sama yang membawa keberkahan ke rumahnya.

Anak yang ia susui dengan air susu yang tiba-tiba berlimpah, setelah bertahun-tahun kering.

Sampai akhirnya, ia tiba.

Mereka menemukan Muhammad berdiri, wajahnya pucat — berubah warna kulitnya.1

Bukan tergeletak. Bukan terluka. Berdiri.

Halimah berhenti sejenak, menahan napas.

Lalu ia berlari menghampirinya, memeluknya erat-erat, menanyakan apa yang terjadi.

Muhammad menceritakan: seseorang datang, membaringkannya, membuka dadanya, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, lalu mengembalikannya.3

Tidak ada darah yang mengalir keluar.

Tapi ada bekas yang tertinggal — sebuah jahitan tipis melintang di dadanya, yang akan tetap ada di sana hingga ia dewasa.1

Anas bin Malik, puluhan tahun kemudian, masih menyaksikannya sendiri:

"Saya pernah diperlihatkan bekas jahitan itu di dadanya."1

Tidak lama setelah peristiwa itu, Halimah membawa Muhammad kembali ke Makkah, lebih cepat dari rencana semula.3

Ia menemui Aminah.

Ia menceritakan apa yang terjadi pada anaknya.

Ia menyerahkan kembali Muhammad kepada ibunya, meski masa asuhannya belum genap seperti yang biasa dijalani anak-anak lain.3

Sebuah peristiwa yang disampaikan dengan jelas oleh seorang saksi langsung — Anas bin Malik — melalui riwayat yang berstatus shahih.

Jibril datang. Dada dibelah. Hati dibasuh dari bagian yang gelap. Lalu dikembalikan, dengan bekas yang tetap ada hingga bertahun-tahun kemudian.

Tidak ada yang disembunyikan dalam riwayat ini — justru detailnya yang membuatnya nyata: gumpalan darah, baskom emas, air zam-zam, jahitan yang tersisa.

Di dada itu pernah ada bekas jahitan.

Dan puluhan tahun kemudian, orang-orang masih melihatnya.

Referensi
  1. 1.Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab: Itsbat Nubuwwah Nabiyyina Muhammad ﷺ, Hadits riwayat Anas bin Malik tentang peristiwa Syaqq ash-Shadr (no. 162).
  2. 2.Identitas Jibril ﷺ sebagai pelaku tunggal sebagaimana disebutkan secara eksplisit dalam matan hadits Anas bin Malik riwayat Muslim — berbeda dari sebagian riwayat sirah yang menyebut "dua orang berpakaian putih" dari sudut pandang saudara susuan Nabi ﷺ. Lihat Catatan Editor.
  3. 3.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Istirdha' an-Nabi fi Bani Sa'd, Hal. 168–170, Dar al-Ma'rifah, Beirut, tahqiq Musthafa as-Saqqa dkk.
Catatan Editor

Peristiwa pembelahan dada (Syaqq ash-Shadr) terjadi lebih dari satu kali sepanjang hidup Rasulullah ﷺ menurut sebagian ulama — termasuk saat masa kecil di Bani Sa'd dan saat menjelang Isra Mi'raj. Bab ini hanya membahas peristiwa pertama, yang terjadi pada masa penyusuan, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan dinukil para ulama sirah.

Narasi bab ini mengikuti matan hadits Shahih Muslim secara langsung, yang menyebutkan Jibril ﷺ sebagai pelaku tunggal peristiwa ini — bukan dua orang berpakaian putih sebagaimana versi yang lebih populer beredar di sebagian kitab sirah dan disampaikan dari sudut pandang saudara susuan Nabi ﷺ. Kedua riwayat ini berasal dari jalur dan sudut pandang penyaksian yang berbeda; bab ini memilih versi hadits Muslim karena berstatus shahih secara langsung dari sanad yang lebih kuat.

Soal usia Nabi ﷺ saat peristiwa ini terjadi juga terdapat perbedaan riwayat — sebagian ulama menyebut usia sekitar 2 tahun (masa penyusuan awal), sebagian lain seperti Ibnu Sa'ad menyebut usia 4 tahun. Sebagian sejarawan bahkan berpendapat Nabi ﷺ kembali ke Bani Sa'd untuk masa asuhan ketiga setelah peristiwa ini, mengingat riwayat lain menyebutkan Nabi ﷺ menetap di Bani Sa'd hingga usia yang lebih besar. Bab ini mengikuti kronologi yang paling umum dikutip tanpa mengklaim kepastian usia.

Riwayat ini berstatus shahih dalam hadits — diriwayatkan Imam Muslim dengan sanad yang kuat dari Anas bin Malik, yang secara langsung menyaksikan bekas jahitan di dada Nabi ﷺ hingga dewasa. Sebagian kecil cendekiawan kontemporer, termasuk beberapa pakar tafsir, mempertanyakan kewajiban mempercayai detail teknis peristiwa ini karena dianggap bersifat khabar ahad (informasi dari jalur tunggal yang tidak mencapai derajat mutlak). Mayoritas ulama sirah dan hadits tetap menerimanya sebagai bagian shahih dari riwayat hidup Nabi ﷺ, dan bab ini mengikuti pandangan mayoritas tersebut. Detail teknis peristiwanya — bagaimana proses ini terjadi secara fisik — tetap menjadi perkara yang diimani tanpa dapat dijelaskan secara empiris.

Jejak Perjalanan

Setiap fase — setiap langkah — dalam satu peta.

Fase 3

Mencari Kebenaran

Kesunyian Gua Hira dan malam yang mengubah segalanya
  1. 610 M

    Menyepi di Gua Hira

  2. 610 M

    Malam yang Mengubah Dunia

  3. 610 M

    Iqra'

  4. 610 M

    Kembali kepada Khadijah

Fase 6

Membangun Peradaban

Masjid, persaudaraan, dan piagam
  1. 622 M

    Masjid Nabawi

  2. 622 M

    Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  3. 622–624 M

    Piagam Madinah

Fase 8

Perpisahan

Haji terakhir dan hari yang membuat Madinah menangis
  1. 632 M

    Haji Wada'

  2. 632 M

    Wasiat Terakhir

  3. 632 M

    Hari yang Membuat Madinah Menangis

Fase 9

Jejak yang Tidak Pernah Padam

Warisan Islam dan sahabat yang melanjutkan perjuangan
  1. 632 M+

    Jejak yang Tidak Pernah Padam