Bukan yang paling tua.
Bukan yang paling banyak.
Tapi mereka yang paling dihormati.
Quraisy.
Nama itu mempunyai berat sendiri di setiap sudut semenanjung.
Ketika suku lain mendengar kata itu, mereka tidak memikirkan pedang atau pasukan.
Mereka memikirkan Ka'bah.
Mereka memikirkan Makkah.
Mereka memikirkan orang-orang yang dipercaya menjaga rumah yang paling tua di tanah Arab.
Itulah sumber segala kehormatan Quraisy.2,4
Bukan kekuatan militer.
Bukan kekayaan dagang.
Tapi kunci Ka'bah.
Bagaimana sebuah suku biasa bisa menjadi penguasa kota paling disegani di seluruh Jazirah?
Jawabannya dimulai dari satu orang.
Qusay bin Kilab.2,3,5
Lelaki yang menyatukan Quraisy dan membawa mereka ke dalam lembah Makkah.
Sebelum Qusay, Ka'bah dijaga oleh suku lain.
Khuza'ah.2,4
Mereka masuk ketika keturunan Ismail عليه السلام mulai tersebar dan melemah.
Perlahan.
Tanpa terasa.
Hingga suatu hari, rumah itu sudah bukan milik mereka lagi.
Tapi Qusay tidak menerima keadaan itu.
Ia tidak melihat alasan mengapa rumah leluhurnya dijaga oleh suku lain.
Ia tidak melihat alasan mengapa keturunan Ibrahim dan Ismail tidak memiliki hak atas kota yang dibangun oleh nenek moyang mereka sendiri.
Maka Qusay bergerak.
Dengan kecerdikan dan keberanian, ia mengambil kembali Makkah.2,3
Bukan dengan peperangan besar.
Bukan dengan pertumpahan darah.
Tapi dengan cara yang lebih halus — dan lebih permanen.
Ia menikahi putri kepala suku Khuza'ah.
Ia mengumpulkan dukungan.
Ia menunggu saat yang tepat.
Dan ketika waktunya tiba, ia mengambil alih.
Setelah Qusay menguasai Makkah, ia tidak membagi-bagi kekuasaan seperti kebanyakan pemimpin suku.
Ia membangun struktur.
Untuk pertama kalinya, Quraisy memiliki pembagian peran yang jelas.2,4
Ada yang menjaga kunci Ka'bah — Hijabah.
Ada yang memberi minum jamaah haji — Siqayah.
Ada yang memberi makan tamu — Rifadah.
Ada yang memimpin pasukan — Liwa'.
Ada yang mengatur musyawarah — Dar an-Nadwah.
Setiap faksi memiliki tugas.
Setiap tugas memiliki kehormatan.
Dan semua kehormatan itu berpusat pada satu nama: Quraisy.
Qusay membangun Dar an-Nadwah — rumah musyawarah.4
Bangunan itu menjadi pusat segala keputusan.
Pernikahan tidak sah tanpa persetujuan Dar an-Nadwah.
Perang tidak dimulai tanpa persetujuan Dar an-Nadwah.
Bendera pasukan tidak dikibarkan tanpa persetujuan Dar an-Nadwah.
Setiap urusan besar Makkah melewati satu pintu itu.
Dan hanya Quraisy yang boleh duduk di dalamnya.
Setelah Qusay wafat, kekuasaan tidak runtuh.
Justru semakin kuat.
Anak cucunya mewarisi bukan hanya nama, tapi sistem.
Abdu Manaf mengambil alih kehormatan memberi makan dan minum.
Abdud-Dar mewarisi kunci Ka'bah dan bendera perang.
Hingga datang satu nama yang mengubah segalanya.
Hashim.2,3
Kakek Nabi Muhammad ﷺ.
Ia tidak puas dengan kehormatan warisan.
Ia ingin lebih.
Hashim melihat bahwa Makkah punya sesuatu yang tidak dimiliki kota mana pun di Jazirah: Ka'bah.
Setiap tahun, ribuan orang datang berziarah.
Mereka butuh makanan.
Mereka butuh tempat tinggal.
Mereka butuh perlindungan.
Dan mereka membawa barang dagangan.
Hashim menyadari bahwa kehormatan tanpa kekayaan adalah pohon tanpa akar.
Maka ia memulai perjalanan dagang ke Syam di musim panas.2,3
Dan ke Yaman di musim dingin.
Ia menandatangani perjanjian dengan kaisar Byzantium.
Ia membuat kesepakatan dengan suku-suku di sepanjang jalur.
Ia menjamin keamanan kafilah Quraisy melewati tanah-tanah yang selama ini berbahaya.
Perjalanan yang dulunya penuh risiko kini menjadi aman.
Kafilah yang dulunya kecil kini menjadi besar.
Keuntungan yang dulunya tipis kini menjadi berlimpah.
Al-Qur'an sendiri menyebut nikmat ini:1
Allahﷻ menyebut dua perjalanan itu bukan tanpa alasan.
Karena dari dua perjalanan itulah seluruh kekuasaan Quraisy bertumpu.
Tanpa perdagangan, mereka hanya penjaga bangunan.
Dengan perdagangan, mereka menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh di Jazirah Arab.
Nama Quraisy pun menjadi sinonim dari dua hal: kehormatan dan kekayaan.
Dua hal yang jarang berada di tangan yang sama di tanah Arab.
Biasanya suku yang kuat secara militer miskin secara harta.
Atau suku yang kaya secara harta lemah secara kehormatan.
Quraisy memiliki keduanya.
Dan itu membuat mereka tidak tergoyahkan.
Tapi kekuasaan tidak datang tanpa bayaran.
Di balik kesatuan yang mereka tunjukkan ke luar, ada retakan yang tumbuh di dalam.
Bani Abdu Manaf dan Bani Abdud-Dar.
Dua cabang keluarga yang sama-sama merasa berhak atas kehormatan tertinggi.
Abdu Manaf — keturunan Hashim — merasa bahwa merekalah yang membawa kemakmuran.
Merekalah yang menghidupi Makkah.
Merekalah yang menjaga hubungan dengan dunia luar.
Abdud-Dar — keturunan yang mewarisi kunci Ka'bah — merasa bahwa merekalah pemilik sah segala kehormatan.
Ayah mereka yang mewariskan hak-hak itu.
Tetaplah milik mereka.
Perselisihan ini tidak meledak menjadi perang.
Tapi tidak juga reda.
Ia mengendap seperti bara di bawah abu.
Menunggu angin yang akan meniupnya.
Di antara semua faksi Quraisy, ada satu rumah yang kelak akan menjadi penting.
Rumah Abdul Muthalib.
Cucu Hashim.
Lelaki yang menemukan kembali sumur Zamzam setelah bertahun-tahun terkubur.2,4,5
Lelaki yang pernah bernazar akan menyembelih putranya jika diberi sepuluh anak — dan nazar itu hampir terlaksana, sebelum ditebus dengan seratus unta.
Abdul Muthalib bukan raja.2,5
Tapi pengaruhnya lebih besar dari raja.
Ia bukan pemimpin militer.
Tapi perkataannya lebih berat dari pedang.
Ia duduk di Dar an-Nadwah.
Ia memberi makan jamaah haji.
Ia menjadi suara yang paling didengar di Makkah.
Dan di dalam rumahnya, sejarah sedang menunggu.
