Tidak ada yang istimewa dari luar.
Dinding seperti dinding yang lain.
Langit di atasnya seperti langit yang sama menaungi seluruh Makkah.
Tapi di dalam rumah itu, seorang perempuan sedang menunggu.
Namanya Aminah binti Wahb.1
Putri pemimpin Bani Zuhrah.
Istri Abdullah bin Abdul Muthalib.
Perempuan yang sejak berbulan-bulan lalu membawa sesuatu di dalam dirinya.
Tapi Abdullah tidak ada di sisinya.
Abdullah wafat dalam perjalanan dagang ke Yatsrib.1,2
Sebelum sempat kembali ke Makkah.
Sebelum sempat melihat apa yang ia tinggalkan.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa selama kehamilan itu, Aminah tidak merasakan beban yang biasanya menyertai para ibu.3
Tidak ada keluhan yang berat.
Tidak ada kelelahan yang berlebihan.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa selama kehamilan itu, Aminah melihat cahaya yang keluar darinya.4
Cahaya itu menjangkau jauh.
Hingga menerangi istana-istana di negeri Syam.
Ia tidak tahu apa arti dari apa yang ia lihat.
Di malam lain, ia mendengar sesuatu dalam tidurnya.
Sebuah suara.
Suara yang menyuruhnya memberi nama bayi yang akan lahir itu: Muhammad.1
Waktu terus berjalan.
Hingga malam Senin, dua belas Rabi'ul Awwal.5
Malam yang tenang.
Tidak ada angin kencang.
Tidak ada awan yang menutupi bintang.
Di dalam rumah itu, Aminah melahirkan tanpa kesulitan yang berarti.3
Seorang bayi laki-laki.
Dan pada saat itu, Aminah menyaksikan sesuatu.
Sebuah cahaya keluar bersama kelahiran bayinya.
Cahaya itu menjangkau jauh.
Hingga ia bisa melihat istana-istana di negeri Syam — negeri yang bahkan tidak pernah ia kunjungi.4
Ia tidak tahu mengapa.
Ia hanya tahu bahwa cahaya itu nyata.
Dan cahaya itu tidak datang dari lampu, atau dari bulan, atau dari apa pun yang biasa menerangi malam.
Shafiyah binti Abdul Muthalib — bibi dari bayi itu — ada di sisinya malam itu.6
Ia yang menerima bayi itu pertama kali.
Ia yang kemudian membawanya kepada Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib adalah lelaki yang sudah tua.
Pemimpin Bani Hasyim.
Pemimpin yang tidak mundur ketika Abrahah datang dengan gajahnya.
Sekarang lelaki itu berdiri memegang cucunya.
Ia membawa bayi itu ke Ka'bah.6
Ia berdoa di sana.
Lalu ia memberi nama bayi itu: Muhammad.6
Seseorang bertanya: mengapa nama itu? Nama itu tidak biasa.
Abdul Muthalib menjawab: aku ingin ia dipuji di langit dan di bumi.6
Kabar itu menyebar di Makkah seperti cara kabar selalu menyebar.
Dari mulut ke mulut.
Dari satu rumah ke rumah berikutnya.
Bayi itu lahir.
Cucu Abdul Muthalib.
Putra Abdullah yang telah wafat.
Orang-orang Quraisy mendengarnya.
Mereka menerimanya seperti mereka menerima kabar kelahiran lain dari keluarga terpandang.
Dengan hormat.
Dengan perhatian.
Namun tanpa memahami apa yang baru saja tiba di tengah-tengah mereka.
Tidak ada yang melihat cahaya yang disaksikan Aminah malam itu.
Tidak ada yang tahu bahwa cahaya itu menjangkau sampai ke negeri yang jauh.
Hanya Aminah yang menyaksikannya.
Dan ia menyimpannya sendiri, tanpa tahu kepada siapa harus menceritakannya.
Makkah terus berjalan seperti biasa.
Ka'bah masih berdiri di tempat yang sama.
Pasar masih ramai di pagi hari.
Kafilah masih keluar masuk lembah.
Tidak ada yang berubah di permukaan.
Tidak ada tanda yang bisa dibaca oleh siapa pun yang lewat di jalan itu.
Hanya sebuah rumah di kawasan Bani Hasyim.
Hanya seorang ibu yang baru saja menyaksikan cahaya yang tidak bisa ia jelaskan.
Hanya seorang bayi.
Hanya sebuah nama yang baru saja disebut untuk pertama kalinya di lembah ini.
Muhammad.
