Pertama, ibunya.
Sekarang, kakeknya.
Dua orang yang menjaganya sejak ia tidak punya ayah.
Dan sekarang keduanya sudah tidak ada.
Ia berusia delapan tahun.
Usia ketika seorang anak biasanya masih memanggil-manggil ibunya di tengah malam.
Usia ketika seorang anak biasanya masih digenggam tangannya setiap menyeberang jalan.
Muhammadﷺ sudah dua kali kehilangan tangan yang menggenggamnya.
Di antara putra-putranya, Abdul Muthalib memilih Abu Thalib.
Bukan karena ia yang paling kaya.
Tetapi karena ia mempercayakan cucunya kepada orang yang paling mampu menjaganya.2
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada Abu Thalib.
Bukan kepada yang paling mampu secara harta.
Tapi kepada yang paling mampu menjaga.
Malam pertama di rumah Abu Thalib, rumah itu sempit dan sederhana.
Anak-anak Abu Thalib sudah tertidur, berdesakan di ruang yang tidak luas.
Muhammadﷺ berdiri di ambang pintu, membawa apa yang tersisa darinya — bukan harta, karena ia tidak memiliki apa-apa, hanya dirinya sendiri.
Abu Thalib menyambutnya bukan seperti menyambut titipan.
Ia menyambutnya seperti menyambut anaknya sendiri yang baru pulang.
Ia memberinya tempat di sampingnya malam itu — tempat yang sejak malam itu tidak pernah lagi kosong.4
Hari-hari pertama, rumah itu terasa berbeda.
Bukan karena bertambah ramai.
Tapi karena bertambah cukup.
Sebelum Muhammadﷺ datang, keluarga itu sering kekurangan makanan untuk anak-anaknya sendiri.3
Setelah ia ada di antara mereka, makanan itu menjadi cukup — bukan berlebih, hanya cukup, tapi cukup itu sendiri sudah jarang terjadi sebelumnya.
Abu Thalib dan istrinya memperhatikan ini.
Mereka mulai mendahulukan Muhammadﷺ sebelum menghidangkan makan untuk anak-anak yang lain — bukan karena pilih kasih, tapi karena mereka menyadari, dengan caranya sendiri, ada sesuatu yang berbeda pada anak ini.3
Begitu juga susu.
Abu Thalib memintanya minum lebih dulu.
Karena setelah itu, yang tersisa akan cukup untuk anak-anaknya sendiri.3
Tahun demi tahun berjalan, dan kasih sayang itu tidak pernah berkurang.
Abu Thalib tidak pernah tidur, kecuali Muhammadﷺ sudah berada di sampingnya.4
Ia tidak pernah keluar rumah, kecuali mengajaknya bersamanya.4
Setiap kali ada hidangan istimewa, ia menyiapkannya khusus untuk keponakan itu — bukan untuk anak-anaknya sendiri lebih dulu.4
Anak-anak Abu Thalib tumbuh melihat ayah mereka memperlakukan sepupu mereka lebih lembut daripada mereka sendiri.
Dan tidak ada yang protes.
Karena mereka pun ikut merasakan: ada keberkahan yang datang bersama anak yatim itu.
Sikap Abu Thalib ini tidak berubah.
Bertahun-tahun lamanya.
Bahkan ketika Muhammadﷺ telah dewasa, telah menikah, telah berusia lebih dari empat puluh tahun — Abu Thalib masih memperlakukannya seperti anak yang baru datang ke rumahnya malam itu.5
Muhammadﷺ tumbuh besar di rumah itu.
Ia ikut membantu pamannya menggembalakan kambing — kambing keluarganya sendiri, dan kambing-kambing penduduk Makkah yang dititipkan untuk diupahi.6
Setiap pagi, ia berjalan ke padang-padang di sekitar Makkah.
Membawa tongkat gembala.
Mengawasi kambing-kambing itu mencari rumput di antara batu dan semak yang jarang.
Hari-hari di padang itu sunyi.
Tidak ada keramaian pasar.
Tidak ada hiruk pikuk kafilah dagang.
Hanya angin, batu, dan kambing yang berjalan pelan.
Di sanalah ia belajar menjaga sesuatu yang lemah, yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Belajar bersabar menunggu, ketika kambing-kambing itu berjalan jauh dan harus dikumpulkan kembali.
Belajar berjalan sendirian, di bawah matahari yang sama yang pernah membakar kulit para pengelana di gurun, jauh sebelum ia lahir.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Muhammadﷺ telah menjadi seorang Rasul, para sahabatnya suatu hari berbincang.
Tentang siapa yang pernah menggembalakan unta, dan siapa yang pernah menggembalakan kambing — masing-masing membanggakan pekerjaannya.
Rasulullahﷺ kemudian bersabda.
Kebanggaan adalah bagi penggembala unta.
Sementara ketenteraman ada pada penggembala kambing.7
Musa diutus, dan ia pernah menggembalakan kambing keluarganya.
Dan aku pun diutus, dan aku pernah menggembalakan kambing penduduk Makkah, di Jiyad.7
Anak yang dulu berjalan sendirian di padang sunyi itu, kini berbicara tentang masa itu bukan dengan malu.
Tapi dengan tenang.
Seolah ia tahu, jauh sebelum siapa pun yang lain tahu, bahwa kesunyian itu juga sedang membentuknya untuk sesuatu yang lebih besar.
