Seolah menutup jalan.
Seolah tidak mengizinkan siapa pun masuk.
Namun di antara celah-celah batu itu, ada lorong.
Sempit.
Tersembunyi.
Sulit ditemukan jika tidak tahu keberadaannya.
Di balik lorong itu, terbentang sebuah lembah.
Lembah itu bernama Makkah.4,6
Dari atas, Makkah tampak seperti cekungan di antara gunung-gunung kelabu.
Tidak ada sungai yang membelahnya.
Tidak ada danau yang memantulkan cahaya.
Tanahnya kering.
Berbatu.
Gersang.
Angin yang masuk ke lembah ini membawa debu, bukan kesegaran.
Matahari menyengat lebih keras di sini karena pantulannya mengenai dinding-dinding batu yang mengelilingi kota.
Sebuah lembah yang seharusnya tidak ada alasan untuk ditinggali.6
Namun manusia tetap datang.
Mereka mendirikan kemah di celah-celah batu.
Mereka membangun rumah-rumah sederhana dari batu dan tanah.
Mereka hidup di sini.
Meskipun tanahnya keras.
Meskipun udaranya kering.
Meskipun tidak ada alasan logis untuk memilih lembah ini daripada lembah-lembah lain yang lebih hijau dan lebih ramah.
Kenapa orang mau tinggal di sini?
Jawabannya ada di bawah tanah.
Di suatu titik di lembah ini, air memancar dari dalam bumi.
Sebuah sumur.
Sumur yang disebut Zamzam.3,5
Di tanah yang hampir tidak mengenal hujan, satu sumber air adalah segalanya.
Zamzam bukan sekadar sumur.
Zamzam adalah alasan Makkah ada.3,5
Tanpa air ini, lembah ini tidak lebih dari celah antara gunung yang tidak bernilai.
Dengan air ini, lembah ini menjadi titik hidup di tengah kegersangan.
Menurut riwayat, sumur ini bermula dari doa seorang ibu.
Hajar رضي الله عنها.3
Ibu dari Nabi Ismail عليه السلام.
Ketika putranya kehausan dan tidak ada air di mana pun, ia berlari.
Dari bukit Shafa ke bukit Marwah.
Dari bukit Marwah kembali ke Shafa.
Bolak-balik.
Tujuh kali.
Mencari air.
Mencari harapan.
Dan air itu datang.
Bukan dari arah yang ia cari.
Tapi dari bawah tanah, tepat di bawah kaki putranya.
Atas izin Allahﷻ.3,5
Air yang tidak habis.
Air yang terus mengalir.
Hingga berabad-abad kemudian.
Setiap kafilah yang melintas di jalur perdagangan utara-selatan harus berhenti di sini.1,6
Bukan karena Makkah indah.
Tapi karena Makkah adalah satu-satunya tempat di sepanjang rute ini yang memiliki air cukup untuk puluhan unta dan ratusan orang.
Dari Yaman ke Syam, jaraknya berminggu-minggu.
Makkah adalah titik di tengah jalan.2,6
Tempat muatan diturunkan.
Unta diberi minum.
Dan pedagang bertemu pedagang lain.
Barang-barang dari berbagai penjuru dunia bertemu di pasar-pasar Makkah.
Kemenyan dari selatan.
Kain dari utara.
Rempah dari timur.
Pengaruh peradaban dari seberang Laut Merah.
Semua bertemu di satu lembah.
Siapa pun yang berjalan dari selatan ke utara hampir pasti mengenal kota ini.
Posisi ini bukan kebetulan.
Namun Makkah bukan kota terbesar di Jazirah Arab.
Thaif lebih hijau.
Yatsrib lebih subur.
Tapi Makkah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kota-kota lain.
Sebuah bangunan kubus berdiri di tengah lembah ini.
Bangunan tua yang usianya sudah tidak bisa diingat oleh siapa pun yang hidup saat itu.
Menurut riwayat yang diwariskan turun-temurun, bangunan ini dibangun oleh Nabi Ibrahim عليه السلام dan putranya, Nabi Ismail عليه السلام.2
Bukan untuk berhala.
Bukan untuk patung.
Tetapi sebagai tempat beribadah kepada Allahﷻ.
Dan bangunan ini menjadi alasan yang lebih besar daripada perdagangan.
Alasan mengapa orang-orang terus datang ke Makkah.
Setiap tahun, suku-suku dari seluruh Jazirah Arab berdatangan untuk berziarah ke Ka'bah.
Di musim haji, perdagangan dan ibadah berjalan bersamaan.
Ka'bah menjadikan Makkah bukan sekadar kota pasar.
Tapi kota suci.
Kota seperti ini butuh penjaga.
Suku Quraisy yang memegang amanah itu.2
Mereka adalah penghuni Makkah yang paling berkuasa.
Mereka menguasai sumur Zamzam.
Mereka mengelola pasar-pasar.
Mereka menjadi penjaga Ka'bah.
Kedudukan ini bukan hanya soal kekayaan.
Ini soal kehormatan.
Menjaga Ka'bah berarti memikul amanah yang dihormati oleh seluruh suku.2,4
Menyediakan air bagi kafilah berarti menjadi tuan rumah bagi seluruh Jazirah Arab.
Dan Quraisy memanfaatkan posisi ini dengan cerdik.
Mereka mengadakan perjanjian dengan suku-suku lain.
Perjanjian yang menjamin keamanan kafilah di jalur perdagangan.
Perjanjian yang menjamin bahwa bulan-bulan suci tidak akan dilanggar oleh peperangan.
Dalam bulan-bulan suci itu, semua suku boleh datang ke Makkah tanpa takut diserang.
Dan saat mereka datang, mereka berdagang.
Agama dan perdagangan.
Berjalan berdampingan.
Sebuah lembah gersang yang seharusnya tidak punya alasan untuk ada.
Tapi hidup karena air dari bumi.
Hidup karena emas dari kafilah.
Hidup karena doa dari ribuan orang yang datang menuju bangunan kubus di tengahnya.
Sebuah kota yang seharusnya kosong.
Namun selalu penuh.
Sebuah lembah yang seharusnya mati.
Namun selalu ramai.
