576 M·Abwa'·2 menit baca
Ilustrasi Bab 9: Perpisahan dengan Sang Ibu

Ilustrasi gambar: Sebuah sosok kecil bercahaya berdiri sendirian di padang Abwa', meninggalkan makam ibunya dalam perjalanan kembali menuju Makkah.

Perpisahan dengan Sang Ibu

Jalan Pulang yang Tidak Sampai

Aminah ingin mengunjungi makam suaminya.

Di Yatsrib, kota tempat Abdullah wafat dan dikuburkan.1

Ia membawa Muhammad, yang saat itu berusia sekitar enam tahun.

Bersama mereka, seorang pelayan bernama Ummu Aiman.1

Ada satu lagi alasan perjalanan ini — bukan sekadar ziarah.

Di Yatsrib, masih ada kerabat dari pihak Bani Najjar, keluarga ibunya Abdul Muthalib.1

Dua tujuan dalam satu perjalanan: menemui yang telah tiada, dan menemui yang masih ada.

Perjalanan dari Makkah ke Yatsrib memakan waktu berhari-hari.

Melewati padang yang panas di siang hari.

Melewati dingin yang menusuk di malam hari.

Rombongan kecil itu berjalan menyusuri jalur yang sama dengan jalur dagang Abdullah bertahun-tahun sebelumnya.

Di Yatsrib, Aminah membawa Muhammad ke tempat ayahnya dimakamkan.1

Tapi sebelum itu, ia membawanya ke sebuah rumah.

Rumah tempat Abdullah dirawat ketika sakitnya memburuk.

Rumah tempat ayah yang tak pernah ia kenal, menghembuskan napas terakhirnya.1

Muhammad berdiri di ambang pintu itu, menatap ruangan yang sunyi.

Tidak ada yang bisa diingatnya tentang ayahnya.

Tapi kini, ada tempat untuk membayangkannya.

Mereka tinggal di Yatsrib selama sebulan.2

Mengunjungi kerabat dari pihak Bani Najjar.

Mendengarkan kisah-kisah tentang Abdullah — bagaimana ia dulu, bagaimana ia disayangi.

Muhammad mendengarkan semuanya dalam diam, mengumpulkan kepingan-kepingan seorang ayah yang hanya bisa ia kenal lewat cerita orang lain.

Lalu rombongan itu bersiap kembali ke Makkah.

Sepanjang jalan pulang, Aminah memberi perhatian lebih kepada putranya.3

Mengajarinya hal-hal kecil, sebagaimana seorang ibu mengajarkan kepada anaknya.

Hari-hari itu terasa tenang.

Seolah perjalanan ini hanyalah perjalanan biasa — seorang ibu dan anaknya, pulang ke rumah.

Di tengah perjalanan pulang, di sebuah tempat bernama Abwa', Aminah jatuh sakit.1

Sakitnya memburuk dengan cepat.

Tidak lama setelah itu, Aminah binti Wahb wafat di Abwa'.1

Ia dimakamkan di tempat itu juga.

Muhammad, yang belum genap tujuh tahun, kini tidak memiliki ayah maupun ibu.

Ummu Aiman membawanya kembali ke Makkah.1

Perjalanan itu memakan waktu lima hari.4

Lima hari, seorang anak kecil berjalan menjauh dari makam ibunya, ditemani satu-satunya orang yang tersisa baginya.

Menyerahkannya kepada kakeknya, Abdul Muthalib.

Lelaki tua yang sudah pernah menggendongnya di hadapan Ka'bah, kini menerimanya kembali — kali ini sebagai seorang yatim piatu.

Seorang anak kehilangan ayahnya sebelum lahir.

Dan kehilangan ibunya sebelum genap tujuh tahun.

Dua kehilangan yang akan membentuk seluruh jalan hidupnya.

Allah tidak meninggalkannya.

Sebagaimana kelak akan disebutkan: bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Lokasi
Referensi
  1. 1.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Wafat Aminah, Hal. 175–177, Dar al-Ma'rifah, Beirut, tahqiq Musthafa as-Saqqa dkk.
  2. 2.Durasi tinggal di Yatsrib sebulan disebutkan dalam beberapa riwayat turunan sirah, termasuk dalam Ensiklopedia Islam dan kutipan dari K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Lihat Catatan Editor.
  3. 3.Detail kasih sayang Aminah sepanjang perjalanan pulang disebutkan dalam riwayat turunan sirah sebagai gambaran umum interaksi ibu-anak menjelang peristiwa wafatnya, bukan kutipan langsung dari sumber primer.
  4. 4.Durasi perjalanan pulang Ummu Aiman bersama Muhammad ﷺ ke Makkah (lima hari) disebutkan dalam riwayat turunan, termasuk Wikishia (mengutip Suyuthi).
Catatan Editor

Tujuan perjalanan ke Yatsrib bersifat ganda: ziarah ke makam Abdullah, dan silaturahmi kepada kerabat dari pihak Bani Najjar — keluarga ibunda Abdul Muthalib. Beberapa riwayat turunan juga menyebutkan adanya kunjungan ke rumah tempat Abdullah dirawat sebelum wafat, sebagai bagian dari pengenalan silsilah keluarga kepada Muhammad ﷺ.

Durasi tinggal di Yatsrib disebutkan beragam dalam riwayat turunan — sebagian menyebut "beberapa hari", sebagian lain menyebut hingga sebulan. Bab ini mengikuti riwayat yang menyebut durasi sebulan, karena lebih banyak dikutip dalam sumber-sumber turunan sirah berbahasa Indonesia, meski riwayat primer Ibnu Hisyam tidak selalu menyebutkan durasi secara eksplisit.

Usia Rasulullah ﷺ saat wafat Aminah disebutkan beragam dalam riwayat, antara empat hingga enam tahun. Mayoritas ulama sirah menyebut sekitar enam tahun. Narasi ini mengikuti pendapat yang lebih banyak dikutip.

Sebagian riwayat turunan menyebutkan Halimah (ibu susuan) juga turut dalam rombongan ke Yatsrib, selain Ummu Aiman. Bab ini mengikuti riwayat primer Ibnu Hisyam yang hanya menyebutkan Ummu Aiman, mengingat sumber yang menyebutkan keikutsertaan Halimah berasal dari riwayat turunan yang tidak selalu mencantumkan sanad yang jelas.

Kutipan dalam refleksi merujuk pada makna Surat Adh-Dhuha ayat 6, yang turun bertahun-tahun setelah peristiwa ini. Disertakan sebagai renungan, bukan sebagai bagian dari peristiwa sejarah itu sendiri.

Jejak Perjalanan

Setiap fase — setiap langkah — dalam satu peta.

Fase 3

Mencari Kebenaran

Kesunyian Gua Hira dan malam yang mengubah segalanya
  1. 610 M

    Menyepi di Gua Hira

  2. 610 M

    Malam yang Mengubah Dunia

  3. 610 M

    Iqra'

  4. 610 M

    Kembali kepada Khadijah

Fase 6

Membangun Peradaban

Masjid, persaudaraan, dan piagam
  1. 622 M

    Masjid Nabawi

  2. 622 M

    Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  3. 622–624 M

    Piagam Madinah

Fase 8

Perpisahan

Haji terakhir dan hari yang membuat Madinah menangis
  1. 632 M

    Haji Wada'

  2. 632 M

    Wasiat Terakhir

  3. 632 M

    Hari yang Membuat Madinah Menangis

Fase 9

Jejak yang Tidak Pernah Padam

Warisan Islam dan sahabat yang melanjutkan perjuangan
  1. 632 M+

    Jejak yang Tidak Pernah Padam