Di Yatsrib, kota tempat Abdullah wafat dan dikuburkan.1
Ia membawa Muhammadﷺ, yang saat itu berusia sekitar enam tahun.
Bersama mereka, seorang pelayan bernama Ummu Aiman.1
Ada satu lagi alasan perjalanan ini — bukan sekadar ziarah.
Di Yatsrib, masih ada kerabat dari pihak Bani Najjar, keluarga ibunya Abdul Muthalib.1
Dua tujuan dalam satu perjalanan: menemui yang telah tiada, dan menemui yang masih ada.
Perjalanan dari Makkah ke Yatsrib memakan waktu berhari-hari.
Melewati padang yang panas di siang hari.
Melewati dingin yang menusuk di malam hari.
Rombongan kecil itu berjalan menyusuri jalur yang sama dengan jalur dagang Abdullah bertahun-tahun sebelumnya.
Di Yatsrib, Aminah membawa Muhammadﷺ ke tempat ayahnya dimakamkan.1
Tapi sebelum itu, ia membawanya ke sebuah rumah.
Rumah tempat Abdullah dirawat ketika sakitnya memburuk.
Rumah tempat ayah yang tak pernah ia kenal, menghembuskan napas terakhirnya.1
Muhammadﷺ berdiri di ambang pintu itu, menatap ruangan yang sunyi.
Tidak ada yang bisa diingatnya tentang ayahnya.
Tapi kini, ada tempat untuk membayangkannya.
Mereka tinggal di Yatsrib selama sebulan.2
Mengunjungi kerabat dari pihak Bani Najjar.
Mendengarkan kisah-kisah tentang Abdullah — bagaimana ia dulu, bagaimana ia disayangi.
Muhammadﷺ mendengarkan semuanya dalam diam, mengumpulkan kepingan-kepingan seorang ayah yang hanya bisa ia kenal lewat cerita orang lain.
Lalu rombongan itu bersiap kembali ke Makkah.
Sepanjang jalan pulang, Aminah memberi perhatian lebih kepada putranya.3
Mengajarinya hal-hal kecil, sebagaimana seorang ibu mengajarkan kepada anaknya.
Hari-hari itu terasa tenang.
Seolah perjalanan ini hanyalah perjalanan biasa — seorang ibu dan anaknya, pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan pulang, di sebuah tempat bernama Abwa', Aminah jatuh sakit.1
Sakitnya memburuk dengan cepat.
Tidak lama setelah itu, Aminah binti Wahb wafat di Abwa'.1
Ia dimakamkan di tempat itu juga.
Muhammadﷺ, yang belum genap tujuh tahun, kini tidak memiliki ayah maupun ibu.
Ummu Aiman membawanya kembali ke Makkah.1
Perjalanan itu memakan waktu lima hari.4
Lima hari, seorang anak kecil berjalan menjauh dari makam ibunya, ditemani satu-satunya orang yang tersisa baginya.
Menyerahkannya kepada kakeknya, Abdul Muthalib.
Lelaki tua yang sudah pernah menggendongnya di hadapan Ka'bah, kini menerimanya kembali — kali ini sebagai seorang yatim piatu.
