570 M·Makkah·6 menit baca
Ilustrasi Bab 5: Tahun Gajah

Ilustrasi gambar: Pasukan bergajah Abrahah mendekati Makkah — gajah Mahmud berdiri di barisan depan, ekspresi pasukan yang sombong, langit yang sebentar lagi akan berubah.

Tahun Gajah

Pasukan yang Dihancurkan dari Langit

Jauh di selatan, seorang raja sedang merencanakan sesuatu.

Bukan perang biasa.

Bukan perebutan wilayah.

Bukan pula penaklukan untuk kekuasaan.

Raja ini ingin menghancurkan sebuah bangunan.

Bangunan yang tidak memiliki pasukan penjaga.

Bangunan yang tidak memiliki tembok pelindung.

Bangunan yang tidak pernah menyerang siapa pun.

Namun bangunan itu membuatnya tidak bisa tidur.

Namanya Abrahah.

Penguasa Yaman atas nama Kerajaan Aksum.2

Ia bukan orang Arab.

Ia datang dari seberang Laut Merah, membawa kekuasaan negara asing ke tanah yang selama ini dikenal karena kemerdekaannya.

Abrahah membangun sebuah gereja besar di Shan'ā.2

Al-Qullays.

Ia membangunnya dengan megah.

Tinggi.

Besar.

Dihiasi emas dan perak.

Tujuannya satu.

Ia ingin agar orang-orang Arab berhenti berziarah ke Ka'bah.2

Ia ingin agar mereka datang ke gerejanya.

Ia ingin mengalihkan pemujaan dari bangunan tua di Makkah ke bangunan barunya di Yaman.

Tapi orang-orang Arab tidak datang.

Mereka tetap pergi ke Makkah.

Mereka tetap mengelilingi Ka'bah.

Mereka tetap mengunjungi bangunan yang dibangun oleh Ibrahim عليه السلام ribuan tahun lalu.

Bukan karena Ka'bah lebih indah.

Bukan karena Ka'bah lebih besar.

Tapi karena Ka'bah memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun oleh tangan manusia.

Ka'bah memiliki jejak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ka'bah memiliki doa Ibrahim yang masih hidup di ingatan mereka.

Ka'bah memiliki tempat yang sudah tertanam di hati setiap suku Arab sejak mereka lahir.

Al-Qullays tidak memiliki semua itu.

Tidak peduli seberapa indah bangunannya.

Tidak peduli seberapa tinggi menaranya.

Hati manusia tidak bisa dipaksa berpaling dari sesuatu yang sudah mereka cintai selama berabad-abad.

Kegagalan itu membuat Abrahah marah.

Bukan marah biasa.

Marah yang menggerakkan pasukan.

Ia mengumpulkan tentara.2

Pasukan besar.

Pasukan infanteri.

Pasukan berkuda.

Dan seekor gajah.

Bukan gajah biasa.

Mahmud.2

Gajah perang raksasa yang tidak pernah dilihat orang-orang Arab sebelumnya.

Hewan sebesar itu tidak hidup di tanah Arab.

Orang-orang Makkah tidak pernah melihat gajah dari dekat.

Mereka hanya mendengar cerita tentang hewan raksasa dari seberang lautan.

Sekarang hewan itu berjalan menuju mereka.

Tujuan Abrahah jelas.

Ia akan menghancurkan Ka'bah.

Bukan karena Ka'bah menyerangnya.

Bukan karena Ka'bah mengancamnya.

Tapi karena Ka'bah membuat gerejanya tidak terlihat.

Karena Ka'bah membuatnya merasa kecil.

Karena egonya tidak menerima bahwa bangunan tua di lembah gersang lebih dihormati daripada gereja megah yang ia bangun dengan segala kekayaannya.

Maka berangkatlah pasukan itu.

Dari Shan'ā ke utara.

Menuju Makkah.

Perjalanan itu tidak singkat.

Berminggu-minggu melintasi gurun dan pegunungan.

Namun Abrahah tidak terburu-buru.

Ia yakin.

Pasukannya besar.

Gajahnya tak tertandingi.

Tidak ada kekuatan di Jazirah Arab yang bisa menghentikannya.

Quraisy bukan tentara.

Mereka pedagang.

Mereka tidak memiliki pasukan perang yang bisa menghadapi kerajaan.

Sepanjang jalan, suku-suku Arab yang mencoba menghalangi langsung dikalahkan.2

Tidak ada yang bisa berbuat banyak.

Kabar itu sampai ke Makkah.

Seorang utusan dari Abrahah mendahului pasukan.

Ia menyampaikan pesan.

Abrahah tidak datang untuk memerangi penduduk.2

Ia hanya datang untuk menghancurkan Ka'bah.

Jika mereka tidak melawan, mereka aman.

Jika mereka melawan, mereka akan dihancurkan.

Utusan itu diterima oleh Abdul Muthalib.2

Sang kepala suku Quraisy.

Lelaki yang paling dihormati di Makkah.

Lelaki yang keturunannya menemukan kembali sumur Zamzam.

Lelaki yang perkataannya lebih berat dari pedang.

Abrahah mengira Abdul Muthalib akan takut.

Mengira ia akan menyerah.

Mengira ia akan memohon belas kasihan.

Tapi yang terjadi berbeda.

Abdul Muthalib berdiri tegak.

Dan mengatakan sesuatu yang akan terus diingat oleh banyak orang setelahnya.

Ia berkata bahwa Ka'bah memiliki Pemilik.2

Dan Pemiliknya akan melindunginya.

Abdul Muthalib tidak mengatakan bahwa Quraisy akan berperang.

Ia tidak mengumpulkan pasukan.

Ia tidak membuat benteng.

Ia mengajak penduduk Makkah meninggalkan kota.2

Mereka mengungsi ke pegunungan di sekeliling lembah.

Meninggalkan Ka'bah sendirian di tengah lembah yang kosong.

Bukan karena mereka tidak peduli.

Tapi karena mereka tahu.

Ka'bah bukan milik mereka.

Ka'bah milik Allah.

Dan jika Allah ingin melindungi rumah-Nya, tidak ada pasukan di dunia yang bisa menyentuhnya.

Jika Allah mengizinkan rumah-Nya dihancurkan, maka itu adalah kehendak-Nya.

Dan tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya.

Pasukan Abrahah tiba di luar Makkah.

Begitu banyak tentara.

Begitu besar pasukan.

Gajah Mahmud berdiri di barisan depan.

Siap untuk maju.

Siap untuk menghancurkan.

Abrahah memerintahkan gajah itu berjalan menuju Ka'bah.

Tapi Mahmud tidak bergerak.

Gajah itu menolak maju.

Tidak peduli seberapa keras dipukul.

Tidak peduli seberapa banyak ditusuk.

Mahmud menolak berjalan menuju Ka'bah.2

Namun ketika mereka mengarahkannya ke utara, ke selatan, ke timur — gajah itu berjalan.

Hanya ketika diarahkan ke Ka'bah, ia menolak.

Seolah ada sesuatu yang menghalanginya.

Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata.

Sesuatu yang lebih kuat dari kekuatan manusia.

Lalu datanglah sesuatu dari langit.

Bukan awan biasa.

Bukan burung biasa.

Sekawanan burung.1

Terbang berkelompok.

Setiap burung membawa tiga batu.

Satu di paruhnya.

Dua di cakarnya.

Batu-batu kecil.

Tidak lebih besar dari biji lentil.

Tapi setiap batu membawa sesuatu yang tidak dimiliki oleh senjata mana pun.

Setiap batu membawa perintah Allah.1

Al-Qur'an mengabadikan peristiwa itu:

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan terhadap mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.
QS Al-Fil: 1-5

Pasukan itu hancur.1

Bukan karena pedang.

Bukan karena panah.

Bukan karena kekuatan manusia.

Mereka hancur karena sesuatu yang datang dari arah yang tidak mereka sangka.

Dari atas.

Dari langit.

Dari Dzat yang mereka lupakan ketika merasa paling kuat.

Batu-batu kecil itu menjadi sebab kehancuran mereka.

Pasukan yang datang dengan kesombongan pulang dalam keadaan hancur.

Pasukan yang begitu besar pada pagi hari.

Menjadi mayat yang bertebaran di sore hari.

Seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Seperti sesuatu yang tidak pernah ada.

Abrahah selamat dari serangan itu.

Tapi tidak selamat dari luka-lukanya.

Ia melarikan diri kembali ke Yaman.

Dalam keadaan hancur.

Tubuhnya berdarah.

Kulitnya terkelupas seperti yang dialami pasukannya.

Ia meninggal dalam perjalanan.2

Seorang raja yang berangkat dengan pasukan terbesar.

Pulang sebagai mayat yang hampir tidak dikenali.

Gajahnya mati.

Pasukannya musnah.

Dan gereja Al-Qullays yang ia bangun dengan segala kemegahannya — tidak pernah menggantikan kedudukan Ka'bah.

Seolah bangunan itu tidak pernah ada.

Ka'bah tetap berdiri.

Tidak satu batu pun yang bergeser.

Tidak satu sentuhan pun yang mengenainya.

Rumah Allah dilindungi oleh Allah.

Bukan oleh manusia.

Bukan oleh pedang.

Bukan oleh benteng.

Tapi oleh kekuasaan yang tidak terlihat.

Orang-orang Arab di seluruh Jazirah menyaksikan peristiwa itu.

Mereka menyebut tahun itu dengan nama baru.

Tahun Gajah.2

Tahun ketika pasukan terbesar yang pernah mereka lihat hancur dalam satu hari.

Tahun ketika bangunan tua di Makkah dilindungi dari langit.

Tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang hidup di tanah Arab.

Dan di tahun yang sama.

Tepat di tahun itu.

Di kota yang dilindungi itu.

Di lembah yang disaksikan oleh pasukan yang hancur itu.

Seorang bayi akan lahir.

Bukan di istana.

Bukan di tengah pasukan.

Bukan dengan gemerlap harta.

Tapi di rumah sederhana.

Di tengah keluarga yang menjaga Ka'bah.

Di bawah langit yang baru saja menyaksikan kekuasaan Allah.

Tahun Gajah bukan sekadar tahun peperangan.

Tahun itu adalah tanda.

Bahwa rumah Allah tidak butuh pelindung dari manusia.

Bahwa kekuasaan sejati bukan di tangan raja.

Dan bahwa di balik peristiwa yang menakjubkan itu, sesuatu yang lebih besar sedang dipersiapkan.

Sesuatu yang akan dimulai dari kelahiran seorang bayi.

Lokasi
Referensi
  1. 1.QS Al-Fil: 1-5
  2. 2.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Dhikr Amr al-Fil, Hal. 22-42, Dar al-Ma'rifah, Beirut, tahqiq Musthafa as-Saqqa dkk.
Catatan Editor

Tahun peristiwa Gajah umumnya disebut Tahun Gajah (±570 M). Sebagian ahli sejarah memberi rentang 555–571 M karena perbedaan metode perhitungan kalender.

Jumlah pasukan Abrahah disebut berbeda-beda dalam riwayat. Narasi ini menggunakan deskripsi umum "pasukan besar" untuk menghindari angka yang tidak pasti.

Ibnu Hisyam meriwayatkan Abdul Muthalib sempat diundang ke kemah Abrahah. Sebagian riwayat lain menyebut pertemuan ini lebih singkat. Narasi mempertahankan inti yang disepakati.

Jejak Perjalanan

Setiap fase — setiap langkah — dalam satu peta.

Fase 3

Mencari Kebenaran

Kesunyian Gua Hira dan malam yang mengubah segalanya
  1. 610 M

    Menyepi di Gua Hira

  2. 610 M

    Malam yang Mengubah Dunia

  3. 610 M

    Iqra'

  4. 610 M

    Kembali kepada Khadijah

Fase 6

Membangun Peradaban

Masjid, persaudaraan, dan piagam
  1. 622 M

    Masjid Nabawi

  2. 622 M

    Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  3. 622–624 M

    Piagam Madinah

Fase 8

Perpisahan

Haji terakhir dan hari yang membuat Madinah menangis
  1. 632 M

    Haji Wada'

  2. 632 M

    Wasiat Terakhir

  3. 632 M

    Hari yang Membuat Madinah Menangis

Fase 9

Jejak yang Tidak Pernah Padam

Warisan Islam dan sahabat yang melanjutkan perjuangan
  1. 632 M+

    Jejak yang Tidak Pernah Padam