Anak-anak dan cucu-cucunya datang dan pergi.
Para pemuka Quraisy singgah untuk berbicara dengannya.
Di tengah keramaian itu, seorang anak kecil berjalan mengikuti kakeknya ke mana pun ia pergi.
Setiap pagi, Abdul Muthalib berjalan menuju Ka'bah.
Dan setiap pagi, Muhammadﷺ berjalan di belakangnya.
Tidak ada yang menyuruhnya.
Tidak ada yang mengajarinya.
Ia hanya selalu ada di sana — beberapa langkah di belakang kakeknya, mengikuti ke mana pun langkah itu pergi.
Ada sebuah alas duduk di dekat Ka'bah, tempat Abdul Muthalib biasa duduk.1
Anak-anaknya tidak berani duduk di alas itu selama ia ada di sana.
Mereka duduk menunggu di sekitarnya.
Tapi ketika Muhammadﷺ datang, ia berjalan langsung ke alas itu dan duduk di sisi kakeknya.2
Anak-anak pamannya berusaha menariknya pergi.
Abdul Muthalib mencegah mereka.
Ia berkata: biarkan cucuku, demi Allah, ia memiliki kedudukan.2
Ia mengusap punggung Muhammadﷺ, dan tampak senang dengan apa yang dilakukannya.2
Ini bukan terjadi sekali.
Hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi, pola yang sama berulang.
Muhammadﷺ datang. Anak-anak pamannya mencoba menariknya. Abdul Muthalib mencegah.
Lama-lama, mereka berhenti mencoba.
Orang-orang Quraisy yang lewat mulai memperhatikannya.
Seorang anak kecil.
Duduk di tempat yang bahkan putra-putra Abdul Muthalib tidak berani duduki.
Tapi tak seorang pun berkata apa-apa.
Di rumah, Abdul Muthalib menerima tamu-tamunya.
Muhammadﷺ duduk di sudut ruangan, mendengarkan.
Perkara-perkara Quraisy dibicarakan. Perselisihan diselesaikan. Keputusan diambil.
Ia belum mengerti semuanya.
Tapi ia mengingat caranya — bagaimana kakeknya berbicara, bagaimana ia mendengar sebelum menjawab, bagaimana ia menjaga ketenangannya bahkan ketika yang lain tidak.
Dua tahun berjalan seperti itu.
Pagi-pagi ke Ka'bah. Duduk di alas yang sama. Mendengarkan di sudut ruangan yang sama.
Bukan peristiwa besar yang terjadi setiap hari.
Hanya kehadiran yang berulang — seorang kakek yang tidak pernah sekali pun mengirimnya pergi, dan seorang cucu yang tidak pernah sekali pun berhenti mengikuti.
Lalu, Abdul Muthalib jatuh sakit.3
Sakitnya tidak kunjung sembuh.
Ia memanggil Abu Thalib — bukan Harits, putra tertuanya, yang tak memiliki kemampuan untuk menanggung beban itu; bukan pula Abbas, yang memiliki harta namun dikenal kikir dengannya.4
Abu Thalib, yang paling sederhana hartanya di antara saudara-saudaranya, namun paling halus perasaannya — dialah yang dipanggil mendekat.
Kepadanya, Abdul Muthalib mengamanahkan Muhammadﷺ.5
Tidak ada yang tahu persis kata-kata yang diucapkan dalam pertemuan itu.
Tapi yang terjadi sesudahnya berbicara lebih jelas dari kata apa pun: Abu Thalib menerima amanah itu, dan tidak pernah melepaskannya.
Tidak lama setelah itu, Abdul Muthalib wafat di Makkah, dimakamkan di Hujun, di sisi makam kakeknya, Qushay bin Kilab.6
Muhammadﷺ mendatangi jenazah kakeknya.
Ia menangis.7
Bukan tangisan yang sama seperti kehilangan yang ia belum sepenuhnya pahami sebelumnya.
Kali ini, ia tahu betul siapa yang pergi — dua tahun pagi yang sama, alas duduk yang sama, kehadiran yang sama.
Kali ini, ia tahu betul apa yang hilang.
