576–578 M·Makkah·3 menit baca
Ilustrasi Bab 10: Di Bawah Asuhan Abdul Muthalib

Ilustrasi gambar: Muhammad ﷺ kecil yang duduk di atas kursi tempat Abdul Muthalib, dan orang-orang Bani Hasyim berbisik membicarakannya.

Di Bawah Asuhan Abdul Muthalib

Dua Tahun di Bawah Sayap Sang Kakek

Rumah Abdul Muthalib selalu ramai.

Anak-anak dan cucu-cucunya datang dan pergi.

Para pemuka Quraisy singgah untuk berbicara dengannya.

Di tengah keramaian itu, seorang anak kecil berjalan mengikuti kakeknya ke mana pun ia pergi.

Setiap pagi, Abdul Muthalib berjalan menuju Ka'bah.

Dan setiap pagi, Muhammad berjalan di belakangnya.

Tidak ada yang menyuruhnya.

Tidak ada yang mengajarinya.

Ia hanya selalu ada di sana — beberapa langkah di belakang kakeknya, mengikuti ke mana pun langkah itu pergi.

Ada sebuah alas duduk di dekat Ka'bah, tempat Abdul Muthalib biasa duduk.1

Anak-anaknya tidak berani duduk di alas itu selama ia ada di sana.

Mereka duduk menunggu di sekitarnya.

Tapi ketika Muhammad datang, ia berjalan langsung ke alas itu dan duduk di sisi kakeknya.2

Anak-anak pamannya berusaha menariknya pergi.

Abdul Muthalib mencegah mereka.

Ia berkata: biarkan cucuku, demi Allah, ia memiliki kedudukan.2

Ia mengusap punggung Muhammad, dan tampak senang dengan apa yang dilakukannya.2

Ini bukan terjadi sekali.

Hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi, pola yang sama berulang.

Muhammad datang. Anak-anak pamannya mencoba menariknya. Abdul Muthalib mencegah.

Lama-lama, mereka berhenti mencoba.

Orang-orang Quraisy yang lewat mulai memperhatikannya.

Seorang anak kecil.

Duduk di tempat yang bahkan putra-putra Abdul Muthalib tidak berani duduki.

Tapi tak seorang pun berkata apa-apa.

Di rumah, Abdul Muthalib menerima tamu-tamunya.

Muhammad duduk di sudut ruangan, mendengarkan.

Perkara-perkara Quraisy dibicarakan. Perselisihan diselesaikan. Keputusan diambil.

Ia belum mengerti semuanya.

Tapi ia mengingat caranya — bagaimana kakeknya berbicara, bagaimana ia mendengar sebelum menjawab, bagaimana ia menjaga ketenangannya bahkan ketika yang lain tidak.

Dua tahun berjalan seperti itu.

Pagi-pagi ke Ka'bah. Duduk di alas yang sama. Mendengarkan di sudut ruangan yang sama.

Bukan peristiwa besar yang terjadi setiap hari.

Hanya kehadiran yang berulang — seorang kakek yang tidak pernah sekali pun mengirimnya pergi, dan seorang cucu yang tidak pernah sekali pun berhenti mengikuti.

Lalu, Abdul Muthalib jatuh sakit.3

Sakitnya tidak kunjung sembuh.

Ia memanggil Abu Thalib — bukan Harits, putra tertuanya, yang tak memiliki kemampuan untuk menanggung beban itu; bukan pula Abbas, yang memiliki harta namun dikenal kikir dengannya.4

Abu Thalib, yang paling sederhana hartanya di antara saudara-saudaranya, namun paling halus perasaannya — dialah yang dipanggil mendekat.

Kepadanya, Abdul Muthalib mengamanahkan Muhammad.5

Tidak ada yang tahu persis kata-kata yang diucapkan dalam pertemuan itu.

Tapi yang terjadi sesudahnya berbicara lebih jelas dari kata apa pun: Abu Thalib menerima amanah itu, dan tidak pernah melepaskannya.

Tidak lama setelah itu, Abdul Muthalib wafat di Makkah, dimakamkan di Hujun, di sisi makam kakeknya, Qushay bin Kilab.6

Muhammad mendatangi jenazah kakeknya.

Ia menangis.7

Bukan tangisan yang sama seperti kehilangan yang ia belum sepenuhnya pahami sebelumnya.

Kali ini, ia tahu betul siapa yang pergi — dua tahun pagi yang sama, alas duduk yang sama, kehadiran yang sama.

Kali ini, ia tahu betul apa yang hilang.

Dari ayah, kepada ibu.

Dari ibu, kepada kakek.

Dari kakek, kepada paman.

Penjaga itu berganti.

Tapi penjagaan Allah tidak pernah berganti.

Lokasi
Referensi
  1. 1.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Kafalah Abdul Muthalib, Hal. 178, Dar al-Ma'rifah, Beirut, tahqiq Musthafa as-Saqqa dkk.
  2. 2.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, riwayat tentang alas duduk Abdul Muthalib di dekat Ka'bah, Hal. 178–179.
  3. 3.Mengenai usia Abdul Muthalib saat wafat, riwayat berbeda-beda. Lihat Catatan Editor.
  4. 4.Chanelmuslim.com, "Kisah Wafatnya Abdul Muthalib", mengutip pertimbangan Abdul Muthalib dalam memilih pengasuh Muhammad ﷺ di antara putra-putranya.
  5. 5.Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah, Jilid 1, Bab: Wafat Abdul Muthalib wa Kafalah Abi Thalib, Hal. 179–180, Dar al-Ma'rifah, Beirut. Redaksi pertemuan wasiat disampaikan secara naratif; dialog literal antara Abdul Muthalib dan Abu Thalib yang populer beredar berasal dari riwayat turunan yang lebih lemah sanadnya (lihat Catatan Editor).
  6. 6.Wikishia, "Abdul Mutthalib", riwayat lokasi pemakaman di Hujun, di sisi makam Qushay bin Kilab.
  7. 7.Riwayat dari Ummu Aiman, dikutip dalam Wikishia, "Abdul Mutthalib" — kesaksian tentang reaksi Muhammad ﷺ di pemakaman kakeknya.
Catatan Editor

Usia Rasulullah ﷺ saat Abdul Muthalib wafat disebutkan sekitar delapan tahun oleh mayoritas ulama sirah, menjadikan masa asuhan Abdul Muthalib berlangsung sekitar dua tahun (576–578 M).

Usia Abdul Muthalib sendiri saat wafat disebutkan sangat beragam dalam riwayat — sebagian menyebut 80 tahun, sebagian lain 82, 108, bahkan 140 tahun. Bab ini tidak mencantumkan angka pasti karena tidak ada konsensus kuat di antara sumber-sumber turunan.

Pertimbangan Abdul Muthalib memilih Abu Thalib alih-alih Harits atau Abbas disebutkan dalam riwayat turunan sirah. Adapun dialog literal yang populer beredar — kalimat wasiat kata demi kata antara Abdul Muthalib dan Abu Thalib — berasal dari riwayat yang dinukil Ibnu Syahr Asyub, sebuah jalur yang lebih sering dirujuk dalam tradisi sirah Syiah dan tidak sekuat sanad riwayat-riwayat lain di bab ini. Karena itu, bab ini memilih menyampaikan momen wasiat tersebut secara naratif tanpa kutipan dialog langsung, agar tidak menempatkan kalimat yang lemah sanadnya sebagai ucapan pasti seseorang.

Riwayat tentang alas duduk Abdul Muthalib di dekat Ka'bah dan ucapannya kepada anak-anaknya merupakan riwayat yang dikenal dalam kitab-kitab sirah, menunjukkan kedudukan khusus yang dirasakan Abdul Muthalib terhadap cucunya. Pengulangan adegan ini di sepanjang bab — pagi-pagi ke Ka'bah, duduk di alas yang sama — adalah penggambaran naratif untuk membangun rasa "dua tahun", bukan klaim bahwa riwayat mencatat kejadian ini berulang secara harfiah setiap hari.

Jejak Perjalanan

Setiap fase — setiap langkah — dalam satu peta.

Fase 3

Mencari Kebenaran

Kesunyian Gua Hira dan malam yang mengubah segalanya
  1. 610 M

    Menyepi di Gua Hira

  2. 610 M

    Malam yang Mengubah Dunia

  3. 610 M

    Iqra'

  4. 610 M

    Kembali kepada Khadijah

Fase 6

Membangun Peradaban

Masjid, persaudaraan, dan piagam
  1. 622 M

    Masjid Nabawi

  2. 622 M

    Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

  3. 622–624 M

    Piagam Madinah

Fase 8

Perpisahan

Haji terakhir dan hari yang membuat Madinah menangis
  1. 632 M

    Haji Wada'

  2. 632 M

    Wasiat Terakhir

  3. 632 M

    Hari yang Membuat Madinah Menangis

Fase 9

Jejak yang Tidak Pernah Padam

Warisan Islam dan sahabat yang melanjutkan perjuangan
  1. 632 M+

    Jejak yang Tidak Pernah Padam